Blog. Bagiku adalah sebuah kotak ajaib yang bisa kusesakkan apapun didalamnya. Tempat dimana aku bisa bebas menyimpan segala yang ada di benakku, untuk aku tuliskan didalamnya. Tempat curhat yang baik. Aku sambangi dia ketika gundah. Aku sambangi pula ketika ada hal menarik yang ingin aku ceritakan, pun ketika memiliki hasrat untuk berbagi kesenangan.
Rasanya demikian lama aku tidak menyambangi blog ku. Sibuk dengan berbagai aktivitas yang menguras waktu dan energi. Tak ada waktu sama sekali untuk menulis? Bukan. Tetapi hanya memanfaatkan waktu senggang untuk mengumpulkan kembali sisa-sisa tenaga untuk kemudian digunakan lagi untuk aktivitas selanjutnya (baca: tidur).
Kali ini, bukan karena ada hal yang menarik yang ingin aku ceritakan. Lalu apa? Gundah. Yah.. mungkin bisa dibilang begitu. Jujur aku bukan orang yang lihai untuk menyampaikan maksud hatiku. Berbelit aku mengungkapkannya, hingga membuat orang yang aku bagi terkadang bingung sendiri menangkap maksud pembicaraanku.
Aku sendiri sebenarnya bingung, apa yang membuatku kian gundah? Apakah karena hal yang dibilang orang sepele? Ataukah memang hal yang kata orang memang dahsyat? Yang aku tahu hanyalah bahwa urusan ini kompleks. Jika dilihat dari satu sisi, hanyalah masalah remeh. Tapi kawan, bukankah yang benar-benar tahu siapa diri kita hanyalah kita sendiri? Itulah kenapa aku sepakat dengan kata-kata “you’re what you think”, engkau adalah apa yang kamu pikirkan. Mau jadi apa kita ke depan? Ya itulah yang seharusnya yang mulai kita pikirkan tentang diri kita mulai dari sekarang. Bukan berarti lalu kita menganggap diri kita lebih baik dengan mengenyampingkan hal-hal negatif pada diri kita, bukan. Namun koreksi diri kita, sifat-sifat buruk kita, perbaiki lalu tanamkan pada diri bahwa kita mampu menjadi lebih baik! Yah, paling tidak itulah yang sekarang aku coba tanamkan pada diriku.
Aku iri pada sekitarku. Jikalah padi, mereka nampak lebih padat dan bertangkai lebih banyak dariku. Bulirnya nampak lebih mantap berkualitas, tangkainya menghasilkan bulir yang lebih banyak. Jikalau burung, mereka nampaknya lebih sering berkicau indah di pagi hari. Menyanyikan cicit-cicit yang membuat nyaman para pendengar setianya. Dan aku hanyalah menjadi burung yang lebih suka terdiam dan menikmati sinar pagi yang menghangatkan bulu-buluku. Tetapi itu semua hanyalah nampaknya. Itu pemikiran yang membebaniku. Memang akupun tak tahu apa yang orang pikirkan tehadapku, intinya aku merasa bahwa aku sangatlah jauh tertinggal. Lirih aku menggumam, aku iri pada kalian.
Bulan malu-malu kucing mengatakan cinta pada seorang dewi yunani. Menatap tajam pada mentari yang bersinar garang. Tampaknya masih enggan menyapa kilauan bumi yang menanti. Bumi yang masih demikian dekat dengan tanah, dan iri akan bulan yang bercahaya, dan venus yang ceria. Aku masih tepekur menatapi kilauan wajahku di air telaga. Apakah rupa wajahku. Siapakah diriku di masa depan. Aku kadang berpikir, bahwa aku sendiri pun terkadang ragu akan masa depanku. Dengan berbagai pencapaian yang aku raih selama ini, dan jika melihat medan yang harus kulalui dalam jalan ini, sulit. Medan yang yang harus membuatku bertahan, ataukah tertahan. Tersungkur dan mundur teratur. Ataukah berdiri tegak dan melangkah pasti, setapak demi setapak.
Jalanku panjang. Sepanjang jalan yang kalian lalui pula. Sepanjang batas yang mampu aku dan kalian torehkan. Dan aku mau jalanku adalah jalan yang bercahaya. Tempat dimana aku akan tersenyum ketika suatu saat aku melewati lagi jalan itu, untuk sekedar flashback, menjajaki nikmatnya masa yang menjadikan diriku sekarang. Masa ketika terkadang aku masih sempat untuk berpikir pragmatis dan oportunis. Saat fajar terbit, aku akan berdiri tegak, menikmati ranumnya padi yang dulu kutanam. Menikmati aroma luka yang nikmat untuk dikenang, namun tak indah untuk diulang. Pragmatis.


cari jati diri? banyak baca dit. karena aku lebih yakin pada “u r what u read” dibanding “u r what u think”. krn buku lebih banyak memberi pengaruh thd apa yg ada dlm diri kita. dan kadang, apa yg ada dlm diri itu gak pernah kita pikirkan sebelumnya. mengalir begitu saja.
semangat nulis yaw. kemarin aku kira2 10 kali liat blogmu, ternyata gak ada tulisan. sekarang kekecewaanku terobati.
oya, satu lagi. ust fauzil adhiim bilang, kalo kita dikalahkan oleh mood saat menulis, bersiaplah utk jadi orang yg gak produktif. *aku lupa pasnya gimana. tapi kira2 gitu.
hehehe…afwan, yah, emang aku kalo lagi ga mood nulis agak susah juga buat ngeluarin yang ada di otak,, mungkin ya gara2 itu juga sih, lagi kurang semangat bacanya,, insyaAllah akan aq coba,, btw, udah banyak khatam bukunya ust fauzil adhim ini ya kayaknya?? hehehe…
haha.. enggak. cuma inspiring words for a writer, beberapa artikel, dan a-book-i-can’t-tell-you-its-title.
oh iya, aku juga sepakat sama yang kamu bilang, “buku lebih banyak memberi pengaruh thd apa yg ada dlm diri kita”. secara tidak langsung emang aku merasakan hal itu,, hehe…
“Tell me what you read and I’ll tell you who you are” is true enough, but I’d know you better if you told me what you reread.
aci rasa quote ini mendukung pernyataannya reza..
adit adit….
melow…
ya kan namanya “bocah galau melankolis 2010″ rul?? haha..
mau ndaftar? aku buka open recruitment ini… haha~
haha.. kalo dipikir2, komenku tadi penuh rahasia banget.. ah, pada akhirnya nanti kamu juga paham, dit.
iya
apa aja bisa ditulis kok
aku aja nulis apa yang kualami setiap hari kok
hehehe:D
gundah selalu mengatarkan kita pada sebuah harap.
tidak selalu, buatku. karena gundah terkadang menjadi tirai besi bagi hadirnya mimpi yang terangun sebelumnya.. yeah..
salam kenal
melihat, membaca, dan meninggalkan jejak disini…blogwalking time. salam kenal
yappp… slaam kenal juga…
Nice to read yours, Mas… Keep blogging
wah pak agung,, ya pak,, keep blogwalking pak…