surat cinta dari ibuk

surat-cinta-copy-675x318

assalamualaikum wr. wb. apa kabar le…capeknya dah hilang kan? sabar aja ya yang ikhlas. temannya banyak aja lho. le, ini ibu ada uang sedikit bisa kamu gunakan bila perlu. beli barang-barang yang penting-penting aja dulu. ingat kamu jauh dari orang tua dan saduara. jadi kamu harus ada uang cadangan bila sewaktu-waktu diperlukan. kalau perlu buka rekening baru yang khusus untuk kamu disini. jadi nggak nyimpan uang tunai banyak. bawa secukupnya saja, sisanya dimasukkan tabungan. jaga stamina dan makan harus cukup dan teratur. juga buah dan sayur. cari makannya sulit nggak? bagaimana menunya? mudah-mudahan kamu bisa cocok masakannya. kalaupun tidak ya dianggap enak aja, menu baru gitu, ntar lama-lama lak terbiasa. dah ya le gitu aja dulu ntar disambung sama SMS atau call wassalamualaikum wr. wb. salam sayang dari ibuk, adik, bapak, dan mbah uti. semoga kamu disini kerasan, sehat, dan sukses selalu. amin. amin. amin.

 

duh jadi berasa mau nangis baca surat itu lagi. itu surat yang pertama kali dikasih sama ibuk waktu aku berangkat pertama kali untuk kuliah di Jakarta (lebih tepatnya Bintaro, tangerang selatan). di pikiranku dan keluarga di rumah waktu itu, Jakarta itu jauh banget. mau gimana lagi, rumahku dan keluarga ada di Jawa Timur. meskipun Magetan berada di ujung barat Jawa Timur, namun untuk ke Jakarta masih tetap harus menempuh perjalanan via Bus selama kurang lebih 16-19 jam. dengan modal mental survival dan bismillah, akhirnya berangkat ke Jakarta juga waktu itu.

Continue reading


Cerita Masa Kecil; Mimpi Bocah Desa

Aku dulu tak pernah bermimpi bisa sampai disini. Kota ini. Megapolitan dengan junjungan puluhan pencakar langit, menantang angkuh angkasa abu-abu. Kota ini, kota yang menjadi arena penghidupan ratusan ribu bahkan jutaan manusia. Jakarta, aku merantau menapaki tangga ke-sekian untuk memeluk mimpi-mimpiku. Perguruan tinggi yang bahkan dulu untuk bermimpi pun aku tak pernah berani.

Aku adalah anak desa. Sebuah desa kecil d lereng gunung lawu. Anak yang dibesarkan dengan lingkungan yang sederhana. Masa kecilku layaknya anak desa pada umumnya, bermain bola di lapangan dan sawah yang habis dibajak, dikejar kambing, bermain kelereng, dan tak jarang berkelahi dengan anak lain. Bertingkah layaknya jagoan kecil yang tak mengenal kata kalah.

Masih jelas di ingatanku, sore itu. Hujan deras layaknya ditumpahkan dari langit. Masa kecilku sampai dengan usia sekitar 7 tahun kuhabiskan di rumah nenek (dari bapak) yang terletak di sebelah desa yang kutinggali sekarang. Rumah tinggalku sekarang pun adalah rumah nenek (dari ibu). Jaraknya mungkin sekitar tiga kilometer. Rumah itu, desa Widorokandang, rumah dengan dinding kayu jati ukiran dan anyaman bambu itu Continue reading


Cinta Bersemi di Serambi Masjid

Dalam dekapan ukhuwah kita menginsyafi, bahwa sebagaimana kemampuan memimpin, kemampuan menjallin hubungan adalah sebuah ketrampilan yang selayaknya dipelajari. Dengannya kita ingin menyajikan buah yang paling manis, paling harum, paling lembut dari pohon iman yang juga terus kita sirami dengan amal ketaatan.( Salim A. Fillah)

Sedikit bernostalgia, dengan membuka kembali lembaran-lembaran kenangan di bangunan-bangunan tua yang masih berdiri kukuh. Bangunan yang sudah berdiri puluhan tahun lamanya di Magetan, yang telah mencetak ribuan alumni yang kini tersebar menapaki karir masing-masing. Mereka menjadi saksi tumbuhnya kami, pencarian kami terhadap karakter diri, pembentukan diri, dan penyusunan batu bata yang menjadikan bangunan dakwah dari Magetan bisa sampai seperti ini. Ruangan-ruangan dengan pepohonan beringin rindang yang dulu menanungi kami di sepantaran timur lapangan bola. Pohon mangga didepan kelas XII IA 3 dan aula yang tak pernah selesai berbuah masak karena keburu kami santap sambil menunggu waktu kegiatan pramuka dimulai. Pohon beringin didepan laboratorium bahasa tempat kami berkumpul usai kegiatan di sekolah. Masjid yang tak pernah sepi ketika istirahat maupun pulang sekolah. Sanggar pramuka dengan bau yang khas. Warung bu warsi, warung iyonge, lapangan basket, lapangan tenis, semua hal itu membaur Continue reading


Sebuah (r)asa

disana, kuselipkan sedikit harap dalam lantunan doaku

dengan rindu yang tulus, bersama aliran rasa yang halus

apakah kau mendengarnya?

kurasa tidak, karena kau terlalu sibuk merenda benalu

dalam diammu kau angkuh, menepis kemelut di tengah takut,

tanpa pernah sadar siapa tersudut


Negeri Berjuta Luka; Sebuah Renungan Atas Carut Marut Indonesia

Negeriku, indonesia yang kucinta. sebuah negeri dengan ratusan pulau yang tersebar dari ujung barat hingga timur. nusantara dengan bubungan gunung gemunung yang menjulang, sebuah bagian dari sirkum pasifik dan sirkum mediterania yang menyatu  dalam titik di sekitar katulistiwa. negeri yang kaya dengan segala limpahan harta bumi, karunia Ilahi yang dianugerahkan bagi penduduknya, penduduk yang sungguh mencintai alamnya. kami hidup dalam limpahan kekayaan alam, hingga Koes Plus mengabadikannya dalam sebuah lagu, ” … bukan lautan tapi kolam susu. kail dan jala cukup menghidupimu. tiada badai tiada topan kau temui. ikan dan udang menghampiri dirimu …” tak salah, bahkan tongkat kayu dan batu pun jadi tanaman. sungguh subur negeri ini. sungguh kaya mineral yang terkandung dalam negeri ini. sungguh celaka bagi tiap insan yang tak pernah bersyukur akan karunia nikmat ini.

Indonesia yang berani menyatakan kemerdekaan di tengah dentuman meriam dan desingan peluru penjajahan bangsa lain. sumber daya manusia yang hebat, dengan semangat yang hebat, dan kepedulian sesama yang luar biasa. negeri yang merdeka 67 tahun lalu, kini kembali menghadapi penjajahan. bukan secara langsung. negeriku dirampok secara moral, intelektual, dan material. berbagai kebudayaan barat dijejalkan ke otak-otak pemuda indonesia. hedonisme disuntikkan ke naluri pemuda, menggantikan kebudayaan ramah tamah, santun, berjiwa besar dan semangat yang telah menjadi akar budaya di  nusantara. ini adalah masa ketika emosi dan nafsu lebih berkuasa dibandingkan logika. ketika manusia tak menghargai lagi keberadaan manusia di sekitarnya. dia yang memiliki jabatan maka ia berkuasa, persis seperti hukum rimba. ya, memang hukum rimba kini seolah Continue reading


Sindrom Mager; Pembunuh Mimpi Nomor Satu Sedunia

Butuh lebih dari sekedar semangat untuk bergerak maju dan meraih kesuksesan. sebagai pemuda, yang memiliki berjuta potensi dan idealisme, rasanya tal layak kita menyatakan kata mager, a.k.a males gerak. yap, itu pandangan pribadi saya. penyebabnya saya sering kecewa ketika membutuhkan kehadiran seseorang yang vital dalam suatu manajemen yang saya bangun, dan ia tidak mau bisa datang lantaran alasan yang sederhana. maaf, lagi mager nih. rasanya pengen ngelempar barbel ke mukanya, eh astaghfirullah…

Tak bisa disangkal, jika reformasi yang digelorakan pada tahun 1998 dahulu merupakan efek pergerakan pemuda. lebih jauh lagi, kemerdekaan bangsa ini juga diinisiasi oleh pemuda. tanpa pemuda yang rela mengorbankan nyawa mereka demi kemerdekaan, mungkin negeri kita baru akan merasakan kemerdekaan 30 atau 40 tahun kemudian. tentang pergerakan dan lain-lain, sudah pernah saya bahas di tulisan saya sebelumnya, memaknai hakikat perjuangan. yang saya tekankan disini adalah, bahwa pemuda itu memiliki berjuta kesempatan. sangat sayang jika waktu yang sangat berharga ini, yang bisa dimanfaatkan untuk membangun masa depan jika mau, disia-siakan begitu saja dengan aktifitas yang tidak bermanfaat. saya sempat tertegun ketika ada yang bercerita kepada saya bahwa ia sering menghabiskan waktunya untuk hal-hal yang bagi saya itu tidak bermanfaat. ada yang bercerita bahwa ia terbiasa Continue reading


The Count of Monte Cristo

Well actually this is a treasury that I found in a folder which is not opened in a long time. this is a story, a review of a book. I made this review when I was studying in English Department at UNS, for about 3 years ago. to be honest, this review is an assignment that I got in a lecture named Book Report. I made four book reports in a semester, there are A Town Like Alice, The Adventure of  Tom Sawyer, and Oliver Twist. but I choose this one to be published, because this is the most amusing book instead of the others, for me. well maybe I will publish the others next time.

This story actually had been filmed. but however the story is still interesting to be read

The title of the novel is The Count of Monte Cristo. It is a novel about the revenge of Edmond Dantes. The Count of Monte Cristo is a novel by the French author Alexandre Dumas. The novel tells about a man who took revenge to his friends who had made him trapped in dungeons. He was very lucky, because he had found treasures that his friend in dungeons had told to him. With his cleverness, he could take revenge to all his enemies slow but sure.

***

The Count of Monte Cristo is a story about a sailor named  Edmond Dantes, who was betrayed  Continue reading


Transisi, Seperti Itukah rasanya?

Setiap awal pasti ada akhir. Setiap pertemuan pasti akan berjumpa dengan perpisahan.

Kini semua terasa berbeda, mungkin. perbedaan itu terasa begitu hebat, meskipun waktu yang dibutuhkan untuk masa transisi itu tak bisa dibilang lama. ya, paling tidak jika dibandingkan dengan waktu yang sering aku kesampingkan dan remehkan, dan kadang aku harapkan untuk segera berlalu dengan waktu yang baru. kini, waktu itu terasa seperti semakin sempit, dengan rutinitas dan intensitas aktifitas yang kini beranjak surut. tiga tahun di sebuah lingkungan akademis di sekolah tinggi.

Jika ditanggapi secara guyonan, sebenarnya saya hanya satu tahun menjadi mahasiswa yang sebenarnya. paling tidak saya sudah menjalani “sekolah” selama lima belas tahun. enam tahun di SD, tiga tahun di SMP, tiga tahun di SMA, dan tiga tahun di Sekolah Tinggi (Akuntansi Negara). satu tahun sebagai mahasiswa di Universitas, cukup memberi saya bekal dan pengetahuan tentang bagaimana idealisme seorang mahasiswa itu, meskipun saya sendiri masih merasa gagal untuk menerapkannya dalam tiga tahun di sekolah tinggi ini. menjadi mahasiswa di sebuah universitas, ketika itu, menuntut suatu transisi diri yang cukup besar bagi saya. bagaimana tidak, ketika masuk universitas saya masih sering terbawa mindset bocah SMA yang (jika dibandingkan dengan mahasiswa) masih manja dan belum mandiri. ketika itu saya dituntut untuk mandiri, menemukan sendiri arti diri, menyusun setiap langkah untuk membangun masa depan. satu tahun di Universitas Sebelas Maret, dengan berbagai aktifitas di organsisasi pergerakan seperti BEM dan KAMMI telah sedikit memberi pencerahan tentang karakter diri saya, sebuah karakter yang saya cari selama ini dan harus saya kembangkan.

Banyak sekali pengalaman yang saya dapat disana, meskipun hanya satu tahun. banyak tokoh hebat Continue reading


We Are The Champion!

“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah….” (Q.S. Ali-‘Imran : 110)

Kalimat itu begitu indahnya, merasuk hingga ke dalam sanubari, mengisi celah-celah kosong yang selama ini haus akan sebuah semangat penggugah. Dan kata-kata itu begitu agung, karena di firmankan oleh Dzat yang Maha Agung pula. Sebuah kalimat semangat yang diikuti oleh perintah untuk segera bergerak, memberikan rangsangan kepada saraf-saraf kita untuk bangkit, enggan terpuruk dalam kemalasan. Menggelontorkan rasa futur yang terkadang membenamkan seorang muslim dalam lembah maksiat. Sebuah janji, sekaligus pengakuan Allah SWT terhadap ummat nabi Muhammad SAW.

Sebagai manusia kita telah diberikan sebuah kewajiban untuk menjadi khalifah di bumi. Dimulai dari hal yang paling sederhana, menjadi khalifah untuk kita sendiri, hingga menjadi khalifah bagi ummat yang sedang membutuhkan arahan langkah pada masa sekarang ini. Strategi serta siyasi disusun demi memperbaiki akhlaq serta aqidah ummat muslim yang sedang terkoyak, pun demi menghadapi serangan-serangan dari musuh Islam yang terus menerus mengintervensi kita dari berbagai arah. Kader-kader dipersiapkan demi membimbing dan membina ummat agar tak berjalan terlalu jauh dari Alquran dan Alhadits. Menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar. Dari sinilah esensi perjuangan itu didapat, menyemangati jiwa-jiwa kaum mukmin untuk terus berjuang menegakkan diinul Islam dan menegakkan kalimatullah di bumi Allah ini.

Sebuah SMS dari seorang ikhwah datang kepada Continue reading


Tentang Bapak, Sosok Sederhana yang Santun

Pertemuan kami bisa dihitung dengan jari dalam rentang waktu dari kedatangan hingga aku berangkat kembali ke Jakarta. dalam satu waktu liburan, aku memang selalu menyempatkan waktu untuk mengunjungi mbah uti lor. lor dalam bahasa jawa artinya utara. ya, aku menyebutnya begitu, karena mbah utiku ada dua, mbah uti dari bapak dan mbah uti dari ibu. mbah uti yang dari bapak aku sebut sebagai mbah uti lor, karena desa tempat tinggalnya terletak di utara rumah. sementara mbah uti yang dari ibu aku sebut sebagai mbah uti kidul, meskipun sebenarnya kami tinggal dalam satu rumah. namun karena ketika aku bersama mbah uti lor, mbah uti kidul itu letaknya ada di selatan, maka kusebut saja mbah uti kidul. bingung ya? tak perlu. terima mentah saja. pada intinya begitu. hehe.

Mbah uti lor adalah sosok yang sangat bersahaja. meskipun mbah kung sudah tiada sejak lebih dari 10 tahun lalu, beliau masih tetap sering ke sawah dengan bu puh (bude sepuh) dan pak puh (pakde sepuh) mengurusi sawah. beliau adalah seorang petani desa, ibu dari 4 orang anak yang kini telah memiliki 12 buyut dan 10 cucu. bapak merupakan anak ragil (bungsu) dari 4 bersaudara ini. umur mbah uti sudah menginjak kepala 8, namun kesehatannya masih prima, hanya matanya saja yang mulai tak bisa diajak kompromi. penyakit katarak yang dideritanya sejak beberapa tahun terakhir tak bisa disembuhkan. operasi yang dilakukannya tak membuahkan hasil. jadi beliau lebih mengandalkan suara sebagai indra untuk mengenal seseorang, dan hebatnya beliau sangat fasih mengenal seseorang hanya dari suaranya saja.

Dalam intensitas pertemuan yang tak terlalu sering, kami sering Continue reading


%d bloggers like this: