Sedih

Sering rasanya sedih.

Saat usaha tak berbalas senyum bahagia

Justru, nestapa memeluk asa

Sesal pun percuma. Waktu tak terulang

Apalah aku. Penista kasih

yang rapuh

yang kehilangan asa

yang hendak hancur

Berkeping-keping

Advertisements

Kaku

Kaku

Seperti besi

Seperti tulang terserak kering

Sudah biasa begitu

Hanya bawaan lahir, terkaku

Tercetak keras

Kalau dibengkok patah

Sudah bentuk baku

Aku pun bosan

Tapi sudah tercetak begitu

Nanti aku patah

Susah disambung

Apa dilebur saja?

Biar bentuk baru

Tapi tetap saja kaku

Bodoh

Ketemu caranya?

Kasih tahu aku


Mati Suri

26 Oktober 2014.

Itu adalah waktu sekira tiga tahun lalu. Hari itu, secara tak sadar aku sudah memutuskan secara sepihak untuk berhenti. Berhenti untuk semua mimpi, akhlak, nilai dan norma, serta semua pembelajaran yang kuperoleh selama ini. Semua yang kuperoleh dari Bapak Ibu ku juga yang kudapat dari luar rumah.

Dua puluh enam oktober waktu itu. Allah meminta Bapak untuk menghadapNya. Memaksa Bapak yang tak sempat mengecupku demi mengucap selamat ulang tahun pada empat hari sebelumnya, untuk menempati taman cinta yang disiapkan Allah di alam lain.

Ketetapan Allah. Aku tak mampu membendung. Sekira air bah membanjiriku yang tak siap untuk mewarisi segala karisma dan moral sosial Bapak. Aku yang tak siap, bahkan sampai sekarang. Bapak pergi saat semua terasa begitu sempurna bagiku. Saat aku terlalu mensyukuri akan karunia keluarga yang sangat pantas untuk kubanggakan. Semua terasa sangat sempurna waktu itu. Bapak dengan hati yang lembut dan penyayang, mencintai dan dicintai keluarganya, disayangi banyak orang, Ibuk yang tak lelah menyirami keluarganya dengan cinta dan sayang, serta adik perempuan yang masih dalam masa Puber. Selalu tertanam di benakku bahwa masih akan panjang jalanku untuk mencoba membahagiakan mereka, dengan jalan awal yang baru saja akan mulai kutapaki di dunia kerja. Tentu mereka akan sangat membanggakanku. Tapi ternyata aku terlalu sombong. Bodoh. Angkuh. Kesempurnaan fana dalam imajinasiku menguap layaknya kepulan asap rokok. Tak berbekas di pandangan tetapi menyisakan sesak napas. Aku harus menelan pil pahit.

Aku memang sedang protes. Jujur saja aku penat. Kepalaku selalu penuh dan berat. Aku sering sakit kepala sejak kepergian Bapak. Waktu itu aku tak pernah terpikir efek berkelanjutan dari duka mendalam dua puluh enam oktober. Yang aku tahu waktu itu, aku sangat sedih hingga ke ujung hati yang aku sendiripun tak tahu letaknya. Tujuh hari aku di tiap pagi sampai tengah malam, aku sering termenung berdiri di depan rumah. Berharap tiba-tiba Bapak datang berjalan pulang ke rumah. Mungkin aku terlalu banyak nonton film Rahasia Ilahi atau kisah kisah Islami. Kepergian Bapak yang sangat mudah, dan cerita dari orang-orang yang menyatakan bahwa betapa ringannya keranda jenazah Bapak saat diantar ke Istana yang disiapkan Allah untuknya. Tentu semua itu membuatku berharap. Aku merapal semua doa yang kuhafal agar Bapak kembali. Datang terhuyung menyusuri jalanan aspal di depan rumah. Di hari ketujuh, aku menyerah. Kupupuskan harapanku. Meskipun aku tahu Bapak selalu menghiburku dengan mendatangiku lewat mimpi di tiap malam, namun aku ingin tetap egois untuk bisa merengkuh fisiknya, merasakan embusan napasnya saat berbisik ke telingaku, mendoakanku.

Guru hidupku pergi. Matahariku padam. Bunga-bunga di taman hatiku layu. Otakku mati. Aku tak pernah meminta semua hal itu terjadi. Tapi itu terjadi. Dan aku kalah perang. Hingga tiga tahun ini tak ada karya. Tak ada lagi suara. Tak ada mimpi. Tak ada daya. Meskipun sisi kesadaranku paham betul bahwa aku harus kembali berdiri. Tiga tahun sudah sangat lama untuk mati suri. Aku harus belajar kembali tentang hidup. Harus coba untuk perbaiki semua ini. Belajar menjadi manusia seperti yang diajarkan Bapak Ibuk kepadaku.


surat cinta dari ibuk

surat-cinta-copy-675x318

assalamualaikum wr. wb. apa kabar le…capeknya dah hilang kan? sabar aja ya yang ikhlas. temannya banyak aja lho. le, ini ibu ada uang sedikit bisa kamu gunakan bila perlu. beli barang-barang yang penting-penting aja dulu. ingat kamu jauh dari orang tua dan saduara. jadi kamu harus ada uang cadangan bila sewaktu-waktu diperlukan. kalau perlu buka rekening baru yang khusus untuk kamu disini. jadi nggak nyimpan uang tunai banyak. bawa secukupnya saja, sisanya dimasukkan tabungan. jaga stamina dan makan harus cukup dan teratur. juga buah dan sayur. cari makannya sulit nggak? bagaimana menunya? mudah-mudahan kamu bisa cocok masakannya. kalaupun tidak ya dianggap enak aja, menu baru gitu, ntar lama-lama lak terbiasa. dah ya le gitu aja dulu ntar disambung sama SMS atau call wassalamualaikum wr. wb. salam sayang dari ibuk, adik, bapak, dan mbah uti. semoga kamu disini kerasan, sehat, dan sukses selalu. amin. amin. amin.

 

duh jadi berasa mau nangis baca surat itu lagi. itu surat yang pertama kali dikasih sama ibuk waktu aku berangkat pertama kali untuk kuliah di Jakarta (lebih tepatnya Bintaro, tangerang selatan). di pikiranku dan keluarga di rumah waktu itu, Jakarta itu jauh banget. mau gimana lagi, rumahku dan keluarga ada di Jawa Timur. meskipun Magetan berada di ujung barat Jawa Timur, namun untuk ke Jakarta masih tetap harus menempuh perjalanan via Bus selama kurang lebih 16-19 jam. dengan modal mental survival dan bismillah, akhirnya berangkat ke Jakarta juga waktu itu.

Continue reading


Cerita Masa Kecil; Mimpi Bocah Desa

Aku dulu tak pernah bermimpi bisa sampai disini. Kota ini. Megapolitan dengan junjungan puluhan pencakar langit, menantang angkuh angkasa abu-abu. Kota ini, kota yang menjadi arena penghidupan ratusan ribu bahkan jutaan manusia. Jakarta, aku merantau menapaki tangga ke-sekian untuk memeluk mimpi-mimpiku. Perguruan tinggi yang bahkan dulu untuk bermimpi pun aku tak pernah berani.

Aku adalah anak desa. Sebuah desa kecil d lereng gunung lawu. Anak yang dibesarkan dengan lingkungan yang sederhana. Masa kecilku layaknya anak desa pada umumnya, bermain bola di lapangan dan sawah yang habis dibajak, dikejar kambing, bermain kelereng, dan tak jarang berkelahi dengan anak lain. Bertingkah layaknya jagoan kecil yang tak mengenal kata kalah.

Masih jelas di ingatanku, sore itu. Hujan deras layaknya ditumpahkan dari langit. Masa kecilku sampai dengan usia sekitar 7 tahun kuhabiskan di rumah nenek (dari bapak) yang terletak di sebelah desa yang kutinggali sekarang. Rumah tinggalku sekarang pun adalah rumah nenek (dari ibu). Jaraknya mungkin sekitar tiga kilometer. Rumah itu, desa Widorokandang, rumah dengan dinding kayu jati ukiran dan anyaman bambu itu Continue reading


Cinta Bersemi di Serambi Masjid

Dalam dekapan ukhuwah kita menginsyafi, bahwa sebagaimana kemampuan memimpin, kemampuan menjallin hubungan adalah sebuah ketrampilan yang selayaknya dipelajari. Dengannya kita ingin menyajikan buah yang paling manis, paling harum, paling lembut dari pohon iman yang juga terus kita sirami dengan amal ketaatan.( Salim A. Fillah)

Sedikit bernostalgia, dengan membuka kembali lembaran-lembaran kenangan di bangunan-bangunan tua yang masih berdiri kukuh. Bangunan yang sudah berdiri puluhan tahun lamanya di Magetan, yang telah mencetak ribuan alumni yang kini tersebar menapaki karir masing-masing. Mereka menjadi saksi tumbuhnya kami, pencarian kami terhadap karakter diri, pembentukan diri, dan penyusunan batu bata yang menjadikan bangunan dakwah dari Magetan bisa sampai seperti ini. Ruangan-ruangan dengan pepohonan beringin rindang yang dulu menanungi kami di sepantaran timur lapangan bola. Pohon mangga didepan kelas XII IA 3 dan aula yang tak pernah selesai berbuah masak karena keburu kami santap sambil menunggu waktu kegiatan pramuka dimulai. Pohon beringin didepan laboratorium bahasa tempat kami berkumpul usai kegiatan di sekolah. Masjid yang tak pernah sepi ketika istirahat maupun pulang sekolah. Sanggar pramuka dengan bau yang khas. Warung bu warsi, warung iyonge, lapangan basket, lapangan tenis, semua hal itu membaur Continue reading


Sebuah (r)asa

disana, kuselipkan sedikit harap dalam lantunan doaku

dengan rindu yang tulus, bersama aliran rasa yang halus

apakah kau mendengarnya?

kurasa tidak, karena kau terlalu sibuk merenda benalu

dalam diammu kau angkuh, menepis kemelut di tengah takut,

tanpa pernah sadar siapa tersudut


Negeri Berjuta Luka; Sebuah Renungan Atas Carut Marut Indonesia

Negeriku, indonesia yang kucinta. sebuah negeri dengan ratusan pulau yang tersebar dari ujung barat hingga timur. nusantara dengan bubungan gunung gemunung yang menjulang, sebuah bagian dari sirkum pasifik dan sirkum mediterania yang menyatu  dalam titik di sekitar katulistiwa. negeri yang kaya dengan segala limpahan harta bumi, karunia Ilahi yang dianugerahkan bagi penduduknya, penduduk yang sungguh mencintai alamnya. kami hidup dalam limpahan kekayaan alam, hingga Koes Plus mengabadikannya dalam sebuah lagu, ” … bukan lautan tapi kolam susu. kail dan jala cukup menghidupimu. tiada badai tiada topan kau temui. ikan dan udang menghampiri dirimu …” tak salah, bahkan tongkat kayu dan batu pun jadi tanaman. sungguh subur negeri ini. sungguh kaya mineral yang terkandung dalam negeri ini. sungguh celaka bagi tiap insan yang tak pernah bersyukur akan karunia nikmat ini.

Indonesia yang berani menyatakan kemerdekaan di tengah dentuman meriam dan desingan peluru penjajahan bangsa lain. sumber daya manusia yang hebat, dengan semangat yang hebat, dan kepedulian sesama yang luar biasa. negeri yang merdeka 67 tahun lalu, kini kembali menghadapi penjajahan. bukan secara langsung. negeriku dirampok secara moral, intelektual, dan material. berbagai kebudayaan barat dijejalkan ke otak-otak pemuda indonesia. hedonisme disuntikkan ke naluri pemuda, menggantikan kebudayaan ramah tamah, santun, berjiwa besar dan semangat yang telah menjadi akar budaya di  nusantara. ini adalah masa ketika emosi dan nafsu lebih berkuasa dibandingkan logika. ketika manusia tak menghargai lagi keberadaan manusia di sekitarnya. dia yang memiliki jabatan maka ia berkuasa, persis seperti hukum rimba. ya, memang hukum rimba kini seolah Continue reading


Sindrom Mager; Pembunuh Mimpi Nomor Satu Sedunia

Butuh lebih dari sekedar semangat untuk bergerak maju dan meraih kesuksesan. sebagai pemuda, yang memiliki berjuta potensi dan idealisme, rasanya tal layak kita menyatakan kata mager, a.k.a males gerak. yap, itu pandangan pribadi saya. penyebabnya saya sering kecewa ketika membutuhkan kehadiran seseorang yang vital dalam suatu manajemen yang saya bangun, dan ia tidak mau bisa datang lantaran alasan yang sederhana. maaf, lagi mager nih. rasanya pengen ngelempar barbel ke mukanya, eh astaghfirullah…

Tak bisa disangkal, jika reformasi yang digelorakan pada tahun 1998 dahulu merupakan efek pergerakan pemuda. lebih jauh lagi, kemerdekaan bangsa ini juga diinisiasi oleh pemuda. tanpa pemuda yang rela mengorbankan nyawa mereka demi kemerdekaan, mungkin negeri kita baru akan merasakan kemerdekaan 30 atau 40 tahun kemudian. tentang pergerakan dan lain-lain, sudah pernah saya bahas di tulisan saya sebelumnya, memaknai hakikat perjuangan. yang saya tekankan disini adalah, bahwa pemuda itu memiliki berjuta kesempatan. sangat sayang jika waktu yang sangat berharga ini, yang bisa dimanfaatkan untuk membangun masa depan jika mau, disia-siakan begitu saja dengan aktifitas yang tidak bermanfaat. saya sempat tertegun ketika ada yang bercerita kepada saya bahwa ia sering menghabiskan waktunya untuk hal-hal yang bagi saya itu tidak bermanfaat. ada yang bercerita bahwa ia terbiasa Continue reading


The Count of Monte Cristo

Well actually this is a treasury that I found in a folder which is not opened in a long time. this is a story, a review of a book. I made this review when I was studying in English Department at UNS, for about 3 years ago. to be honest, this review is an assignment that I got in a lecture named Book Report. I made four book reports in a semester, there are A Town Like Alice, The Adventure of  Tom Sawyer, and Oliver Twist. but I choose this one to be published, because this is the most amusing book instead of the others, for me. well maybe I will publish the others next time.

This story actually had been filmed. but however the story is still interesting to be read

The title of the novel is The Count of Monte Cristo. It is a novel about the revenge of Edmond Dantes. The Count of Monte Cristo is a novel by the French author Alexandre Dumas. The novel tells about a man who took revenge to his friends who had made him trapped in dungeons. He was very lucky, because he had found treasures that his friend in dungeons had told to him. With his cleverness, he could take revenge to all his enemies slow but sure.

***

The Count of Monte Cristo is a story about a sailor named  Edmond Dantes, who was betrayed  Continue reading


%d bloggers like this: